Sunday, 13 January 2013

~ PENTINGNYA DOA PAGI ~

Jika anda adalah seorang yang rajin ke gereja, hidup merasa baik, terkadang juga suka memberi, namun juga sadar bahwa masih sering marah-marah, menonton gambar porno bila pikiran terasa jenuh dan suka sedikit berjudi.

Jika anda menyadari kelemahanmu dan keinginan dalam hatimu untuk dapat hidup berkenan pada Allah, maka jawabnya adalah… Doa Pagi.

Berapa pentingnya sih Doa Pagi itu?

Perhatikan bahwa ada yang spesial bila kita berdoa pagi hari, apa itu?

1. Allah mengunjungi manusia setiap pagi.

Ayub 7:17-18: "Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kau anggap agung, dan Kau perhatikan, dan Kau datangi setiap pagi, dan Kau uji setiap saat?"

Luar biasa! Belajarlah untuk bangun pagi, meskipun mengantuk-ngantuk berusahalah bangun pagi dan berdoa untuk menemui Tuhan Yesus yang datang mengunjungimu.teruslah berusaha untuk setia.

2. Allah memproses telinga manusia setiap pagi.

Yesaya 50:4b-5: "Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang."

Mungkin setelah 2-3 bulan tidak merasakan apa-apa, tidak mendengar apa-apa… kini hatimu lebih mudah untuk berdoa, lebih tenang…. lebih mudah peka dan lebih dapat menguasai dirimu lagi… terutama dalam dosa-dosa hawa nafsunya (kemarahan dan percabulan)

3. Yesus memberi contoh doa pagi.

Markus 1:35: "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."

Hmm… waktu hari masih gelap... berarti sekitar pukul 4:00 – 5:00

4. Allah memberi roti yang turun dari surga sebelum matahari terbit.

Ingatkah akan kisah bangsa Israel yang diberi makan roti yang turun dari surga (manna) dan mencair bila kena sinar matahari.

Sadarilah bahwa Allah ingin memberkatimu di pagi hari, Allah rindu berbicara denganmu di saat sebelum matahari terbit…

Yuuk sobat awali hari dengan Doa Pagi…selalu..


sumber: http://www.facebook.com/SAHABAT.DOA.YESUS?ref=stream

Penyebab Luka Batin dan Penyembuhannya


Sumber: Dari berbagai sumber

Pendahuluan
Dalam kehidupan ini sering terjadi peristiwa-peristiwa yang menimbulkan goresan-goresan luka dalam diri seseorang. Misalnya goresan-goresan karena ditertawai, disakiti hatinya, ditipu dll. Goresan-goresan ini sering membentuk suatu sikap tertentu dalam diri orang tersebut. Misalnya timbul perasaan mudah curiga, tersinggung, sikap menarik diri dll.

Akibat-akibat luka batin:
  • Kecenderungan menutup diri/mengucilkan diri.
  • Imaginasi yang lemah, sukar membayangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi apalagi membayangkan kehadiran Yesus. Sukar melihat dengan mata rohani.
  • Sukar tumbuh secara rohani, sukar memasuki pengalaman rohani.
  • Pertumbuhan rohani yang lambat, sukar maju.
  • Kesembuhan batin membawa seseorang hidup dalam sukacita. Jika semula ia tidak dapat menahan diri sendiri, maka setelah batinnya sembuh ia akan menerima dirinya karena ia sadar bahwa Allah menerima dirinya apa adanya. Kemuliaan bagi Allah Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus yang mengasihi kita dan memberikan kesembuhan itu bagi anak-anakNya.

    Tiap perjumpaan dengan Yesus menyembuhkan seseorang.
    Seorang gadis menceritakan keluh kesahnya. Dia seringkali diliputi rasa cemas
    dan bersalah yang berlebihan, setelah melakukan sesuatu yang kurang berkenan di hati orang lain. Sejujurnya, apa yang telah dilakukannya bukanlah menjadi alasan untuk itu. Jadi, sebenarnya dia terlalu sensitif untuk hal yang demikian, karena hanya sebuah kesalahan yang sangat kecil saja, dia harus “menghukum” dirinya sedemikian rupa. Teman-temannya sering kali mencoba meyakinkan gadis ini bahwa perbuatan yang dilakukannya bukanlah suatu masalah. Akan tetapi, perasaan tersebut masih saja membebani dia. Dia menjadi sangat tersiksa sehingga takut bila mendapat suatu tanggungjawab yang cukup besar, karena dia takut mengecewakan orang yang memberikan tanggungjawab tersebut. Dengan demikian, dia harus berjuang untuk menyeimbangkan perasaan dan tanggungjawab yang dijalankannya.
    Setelah mengikuti Retret Penyembuhan Batin, baru dia mengetahui bahwa sebenarnya ada “sesuatu” dibalik semua peristiwa yang dialami selama ini. Usut punya usut, ternyata sewaktu dia berada di dalam kandungan, sang ibu merasa takut hamil lagi, sementara anaknya masih kecil. Sang ibu sangat takut, orang tuanya yang sering turut campur dikeluarganya menjadi marah akibat dia hamil lagi. Selama masa kehamilan, sang ibu ini selalu diliputi rasa takut dan was-was. Dia selalu berusaha membuat hati orang tua dan mertuanya senang, supaya dia tidak dipersalahkan dengan kehamilannya itu.
    Apapun yang dia kerjakan, dibuatnya sesempurna mungkin supaya tidak ada alasan bagi mereka untuk memarahinya. Dia selalu mengorbankan diri sendiri, apapun akan dilakukan supaya tidak dipersalahkan atas kehamilan tersebut. Semuanya di simpan sendiri dengan rapinya hingga sang suami pun tidak mengetahui perjuangannya. Semuanya dilakukannya secara sempurna dan bila dipandang kurang sempurna dia akan merasa ketakutan, takut mendapat teguran yang pada akhirnya akan mempersalahkan tentang kehamilannya tersebut.
    Setelah gadis ini didoakan penyembuhan batin pada masa dalam kandungan, dia mengatakan bahwa ada suatu dalam batinnya yang lepas dari dirinya. Suatu
    ketenangan dan ketenteraman yang dia rasakan. Hidup terasa menjadi ringan dan tiada beban. Semua tugas-tugas dapat dilakukan dengan ringan dan cepat selesai.
    Pengalaman seperti di atas mungkin juga kita alami. Masih banyak lagi pengalaman-pengalaman negatif yang disebabkan oleh luka batin dan menyebabkan efek-efek yang tidak mengenakkan di masa sekarang.

    Penyebab luka batin
    Setiap kita, manusia, mempunyai alam bawah sadar. Alam bawah sadar, seperti
    komputer yang dapat merekam segala pengalaman dan peristiwa yang pernah dialami selama hidup di dunia ini, baik peristiwa atau pengalaman yang menyenangkan (positif) maupun yang menyakitkan (negatif).

    Definisi luka batin: luka di dalam perasaan (emosi) yang terasa begitu mendalam sehingga sangat menyakitkan dan membekas dalam kenangan atau pikiran.
    Pengalaman luka batin ini dapat dialami selama manusia hidup. Dapat dibagi dalam 4 masa yaitu:

    1.   Masa sebelum kelahiran.
    Bukti menunjukkan bahwa pengalaman luka emosional dimulai pada tahun-tahun pertama kehidupan dan sering terjadi sebelum adanya kelahiran. Bayi di dalam kandungan dapat mengalami trauma secara emosi dan trauma ini dapat dimunculkan pada waktu ia telah dilahirkan. Hasil penelitian para psikolog menunjukan bahwa trauma ini dapat dialami para bayi yang tidak berhasil digugurkan sewaktu masih dalam kandungan. Hal lain yang dapat menjadi pengalaman traumatik secara emosi adalah ketika bayi sulit dilahirkan. Ketika dewasa, pengalaman-pengalaman traumatik ini dapat diingat secara tidak sadar. Walaupun ingatan ini sebatas perasaan dan sulit diidentifikasi, tetapi sering kali sangat menggangu dan sulit diatasi.
    Alam bawah sadar sudah dapat merekam sejak kita berada dalam kandungan. Jadi, apa yang dialami dan dirasakan oleh sang ibu, si janin sudah ikut merasakan dan apa yang dirasakan ini terekam dalam alam bawah sadarnya. Maka dari itu, apabila sang ibu yang sedang mengandung mendapatkan kasih sayang dari orang-orang disekitarnya, ini akan mempengaruhi si bayi yang ada dalam kandungan. Demikian pula bila pada masa kehamilannya dia mendapatkan perlakuan yang kurang wajar ataupun kesedihan-kesedihan yang dialaminya, maka inipun akan sangat berpengaruh bagi si bayi. Lebih-lebih lagi, bila bayi dalam kandungan mendapat penolakan atau tidak dikehendaki dilahirkan atau malah pernah akan digugurkan tetapi tidak berhasil. Ini sangat-sangat berpengaruh pada si anak nantinya. Anak yang pada masa dalam kandungan mendapat penolakan seringkali mengakibatkan si anak menjadi pemberontak, penakut, marah tanpa alasan, dan lain sebagainya. Atau bila si ibu pada masa kehamilannya, dia mengalami tekanan, rasa kuatir dan putus asa, maka si anak juga akan membawa perasaan-perasaan yang dialami si ibu.

    2.  Masa Kelahiran
    Saat kelahiran adalah saat-saat yang singkat tetapi pada saat-saat yang singkat
    itupun tidak luput dari bebasnya akar luka batin. Mungkin terjadi kelahiran yang sulit, dan bila terjadi demikian biasanya menjadikan si anak kurang percaya diri, takut tampil di muka umum, atau juga sering merasa bersalah. Atau kelahiran prematur, si anak akan sering merasa minder, tidak berdaya, dan selalu bergantung dengan orang lain.

    3.  Masa Bayi
    Bayi yang seringkali ditinggal oleh orang tuanya (karena kesibukan orang tua)
    dan diserahkan kepada pembantu, akan membuat si anak mencari perhatian dari orang lain, karena pada waktu bayi kurang perhatian dan kasih sayang sehingga nantinya akan mencari sesuatu yang kurang itu dalam diri orang lain.

    4.  Masa kanak-kanak.
    Masa kanak-kanak juga menjadi masa yang rawan untuk luka batin. Sebagai contoh, ceritera seorang gadis lagi yang semasa kecilnya seringkali mendengar dan menyaksikan pertengkaran orang tuanya. Ketika peristiwa tersebut terjadi, dia merasa sangat ketakutan dan sebagai anak-anak dia tidak dapat melakukan apa-apa untuk mencegah pertengkaran itu, yang bisa dia lakukan hanyalah menangis. Ternyata peristiwa ini sangat membekas dalam pikiran dan hatinya sehingga pada masa dewasa, bila dia mendengar suatu keributan-keributan dia akan merasa sangat ketakutan dan tak jarang dia akan menangis bila mendengar keributan itu. Akan tetapi, setelah penyembuhan batin dengan mengampuni kedua orang tua dan peristiwa tersebut, maka dia dilepaskan dari ketakutannya.
    Pada masa ini lebih mudah untuk mengidentifikasi luka yang dialami. Namun demikian ada beberapa orang yang mengalami kesulitan untuk dapat mengingat luka yang dialami karena mereka sudah menekan dan melupakan luka-luka tersebut.
    • Salah satu luka emosi yang begitu mendalam adalah pelecehan seksual. Konsekuensi dari pelecehan ini dapat terlihat pada waktu yang singkat dengan adanya gejala kesulitan tidur, mengompol, depresi, gelisah, rasa bersalah dan meningkatnya perbuatan merusak. Namun ada pula yang terlihat pada waktu yang panjang, yaitu adanya masalah kepribadian sampai dewasa di mana dapat terlihat dengan timbulnya kecanduan obat dan alkohol, kesalahan cara makan (eating disorder), keinginan bunuh diri dan rasa rendah diri yang kronis.
    • Salah satu penyebab timbulnya trauma pad masa ini juga adalah perceraian orang tua dan kematian orang tua. Dampak perceraian dapat menyebabkan sulit untuk berelasi dengan orang lain, khususnya dengan lawan jenis
    • Kurangnya perhatian, kasih dan didikan dari orang tua, salah satu atau kedua-duanya. Misalnya Ayah kurang di dalam memperhatikan, mengasihi dan mendidik maka dapat membawa dampak.
      • Kehilangan identitas dan peran seksual anak
        • Bagi yang pria: bisa menderita transeksual atau homoseksual
        • Bagi yang wanita: lesbianisme, pelacuran.
    • Perkataan kasar, seperti: kamu anak yang bodoh, kamu tidak punya otak, kamu anak haram, kamu gendut, kamu jelek. Dapat menyebabkan merusak citra diri seorang anak (self image) sehingga membuatnya rendah diri.
    • Perbuatan kasar, seperti: dipukul apabila bersalah walaupun itu hanya suatu kesalahan yang kecil, disiplin yang berlebihan.
    Pengalaman-pengalaman ini telah merusak kepercayaan mereka sehingga mereka menjadi anak yang egosentris, tidak menghargai relasi yang mendalam, memiliki keinginan untuk menyakiti perasaan orang lain dan bertindak kasar terhadap mereka. Pengalaman terluka sewaktu kanak-kanak membawa dampak yang negatif; bukan hanya secara emosi tetapi juga cara pandang terhadap diri sendiri dan orang lain. Pengalaman luka emosional pada masa ini bukanlah suatu hal yang kecil atau tidak penting. Ini terbukti bahwa pengalaman masa kanak-kanak sangat mempengaruhi periode-periode kehidupan selanjutnyan.

    5.  Masa remaja.
    Masa remaja ataupun masa dewasa (sekarang) pun juga masih dapat menjadi akar dari luka batin. Misalnya seorang yang pernah dilecehkan atau pernah diperkosa. Trauma dan peristiwa yang menyakitkan itu akan sangat membekas dan bisa membuat dia antipati dengan lawan jenis sehingga dia menjadi takut menikah.
    Remaja adalah kelompok yang paling sering mendapat luka emosional. Pengalaman yang mereka alami adalah putus cinta, pengkhianatan kepercayaan dan ketidaksetiaan teman. Orang dewasa menganggap bahwa pengalaman ini merupakan hal yang sepele tetapi tidak demikian dengan mereka. Mereka mengalami luka yang dapat menjadi luka batin. Luka emosi mereka sangat nyata dan dampaknya dapat mempengaruhi pada masa dewasa.
    Remaja sering pula dilukai oleh orang tua. Orang tua tidak mau mengerti keadaan mereka. Bahkan orang tua dengan mudah menghakimi mereka dengan tidak adil. Orang tua tidak menyadari bahwa dunia mereka tidak sama dengan dunia yang sedang dialami remaja. Mereka hanya membandingkan dengan pengalaman mereka sendiri. Hal ini akan mengakibatkan konflik dan luka bagi remaja dan orang tua.
    Remaja dapat pula terluka oleh dirinya sendiri. Mereka terluka karena mereka tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan dari dunia. Mereka mempunyai sesuatu yang ideal tetapi mereka harus menghadapi hal yang nyata. Mereka terluka dan akibatnya timbul sifat pesimis dalam diri mereka.

    6.  Masa dewasa.
    Pengalaman pada masa kanak-kanak dan remaja dapat timbul kembali dan menjadi salah satu penyebab luka. Namun faktor terbesar adalah rusaknya kepercayaan, seperti perselingkuhan.
    Di dalam kehidupannya, manusia mudah mengalami luka batin. Sadar atau tidak, pada awalnya relasi dijalin dengan adanya kebutuhan, harapan, keinginan, pandangan tertentu terhadap pihak lain. Ketika hal ini tidak dapat dipenuhi maka dapat menimbulkan perasaan benci yang mendalam. Namun demikian, perhatian kita seharusnya bukan pada luka yang kita alami tetapi bagaimana kita berusaha untuk menyembuhkan luka tersebut.

    Respon Psikologi Dari Luka Batin
    • Rasa kehilangan. Luka ini sangat berhubungan erat dengan pengalaman disisihkan dari orang yang dikasihi, khususnya orang terdekat.
    • Rasa marah. Ketika rasa kehilangan sudah tidak dapat ditolerir maka bagi sebagian orang muncul rasa marah menggantikan rasa kehilangan tersebut.

    Tuhan Yesus datang ke dunia ini tidak hanya untuk menebus roh kita, tetapi juga jiwa dan tubuh kita.

    Dasar-dasar Tubuh, Jiwa, Roh
    Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus. Tu han kita (I Tes 5:2-3).

  • Roh : Orang percaya diberi roh yang baru pada saat kelahiran barunya.
  • Jiwa : Luka-luka dalam jiwa/batin dapat disembuhkan oleh Yesus dengan kuasa darahNya.
  • Tubuh : Dipulihkan dari cacad, kelemahan dan penyakit dengan bilur-bilur Yesus.
  • Mat 7:1-3 : Iblis senang merobek-robek jiwa manusia.
  • Mat 10:24-28 : Jiwa dapat dibunuh di neraka.
  • Yes 61:1-3 : Yesus diutus untuk merawat orang-orang yang remuk hati.
  • Maz 147:1-6 : Ia menyembuhkan luka orang yang patah hati (luka batin).

  • Metode penyembuhan luka batin
    Dengan contoh-contoh pengalaman seperti yang disebutkan diatas, dapat diketahui bahwa efek dari luka batin selain mempersulit dan mempengaruhi dalam kehidupan bersama orang lain. Juga, yang paling dapat dirasakan adalah hilangnya kedamaian dalam hati. Melalui penyembuhan luka batin maka kedamaian yang hilang itu akan dapat diperolehnya kembali. Kedamaian yang sejati adalah yang dari Yesus sendiri, maka dengan penyembuhan batin yang didasarkan atas kasih Allah dan dengan pengucapan syukur kepada-Nya
    maka akan mengembalikan damai yang dari Yesus yang mengatasi segala persoalan (Fil 4:7).
    Penyembuhan tidak akan terjadi hanya dari satu pihak saja. Kedua belah pihak
    harus ada, yaitu si penderita dan Tuhan sendiri. Kita tahu pasti bahwa Tuhan
    selalu terbuka bagi anak-anak-Nya yang datang mohon kesembuhan, jadi tinggal dari pihak yang terluka yang harus bekerjasama dengan rahmat kesembuhan dari Tuhan. Maka dari itu, dalam penyembuhan ini ada syarat-syarat untuk mendapatkan kesembuhan, syarat tersebut antara lain:
    1.  Kemauan dari si penderita untuk sembuh.
    Tuhan sendiri tidak dapat memaksakan rahmat kesembuhan bagi seseorang (lih. Yoh 5:6).
    2.  Bila ada dosa, pertama-tama si penderita harus diajak untuk bertobat terlebih dahulu.
    Dia harus mempunyai keinginan untuk bertobat karena dosa dapat menghalangi karya Tuhan.
    3.  Memiliki iman
    Meski kadang-kadang hal ini tidak mutlak, karena adakalanya Yesus juga menyembuhkan orang yang belum memiliki iman. Hal ini dilakukan oleh Yesus agar nama Bapa dimuliakan melalui karya penyembuhan tersebut.

    4.  Mengingat kembali pengalaman terluka.
    Ini merupakan langkah yang paling sulit karena harus mengalami luka itu kembali. Memang kita telah belajar untuk mengabaikan, mengingkari, menerima luka; dan bahkan meneruskan luka ini kepada generasi berikutnya. Kalau kita tidak mau melakukannya maka kita akan tetap terikat dengan luka masa lalu dan kita tidak percaya kita mampu untuk bebas dari dampak luka yang dialami. Kita perlu untuk melepaskan segala macam bentuk pertahanan yang digunakan untuk menutup perasaan tersebut. Akibatnya akan timbul perasaan berduka. Dengan berduka akan membuat kita tidak lagi menyangkal dan menolak luka yang dialami dan membiarkan kita mengalami dan berusaha pulih melalui perasaan tersebut. Berduka dapat menjadi respon yang menyembuhkan bagi luka batin.
    Dalam doa penyembuhan batin harus ada sikap keterbukaan dari si penderita kepada orang yang akan mendoakan. Sebelum memulai doa penyembuhan batin, dicari dahulu akar-akar terdalam dari luka batin yang menjadi induk dari luka batin tersebut.
    Setelah ditemukan apa akarnya, bisa berdoa dengan imajinasi iman, yaitu dengan mengenangkan kembali peristiwa pahit yang telah terjadi dalam kehidupannya dan kemudian menghadirkan Yesus dalam peristiwa itu.
    Memang cara ini belum tentu semua orang bisa masuk dalam peristiwa pahitnya. Terlebih bagi yang mempunyai luka yang teramat dalam sehingga sangat sulit dan tidak mampu untuk membayangkannya, kadang baru mulai membayangkan sudah ketakutan pada rasa sakit yang pernah dialaminya itu. Bagi kasus yang demikian, si pendoa harus mengambil alih dengan memohon kepada Yesus untuk menuntun kembali ke masa lalunya. Pendoa bisa membayangkan kembali peristiwa tersebut bersama Yesus, berdasar dari cerita si penderita dengan berimajinasi dengan suara keras kemudian si penderita mengikuti tuntunan dari si pendoa.
    Dalam doa bisa membangkitkan iman si penderita dan iman si penderita sendiri bisa melepaskan kuasa Tuhan untuk penyembuhan.

    5.  Mengartikan ulang luka.
    Ketika seseorang mengalami luka batin maka ia dapat menggunakan pikiran untuk merespon perasaan tersebut. Pikiran dapat dipakai menjadi bagian dari perlindungan diri dan membuat suatu strategi untuk dapat mengatasi luka batin dari pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut. Setelah kita mengakui semua hal yang terjadi dan melihat luka batin dengan pikiran yang benar.
    Harus diakui bahwa luka batin telah mengacaukan penilaian kita terhadap orang yang melukai dan diri kita yang dilukai. Kita menilai dia sebagai seorang penjahat dan diri kita sebagai korban. Namun, kita perlu menyadari bahwa Tuhan telah memberikan pikiran, kehendak dan emosi. Kehendak akan mengontrol pikiran dan pikiran akan mengontrol bagaimana kita beremosi. Dengan demikian kita perlu mengubah pikiran kita mengenai hal tersebut. Sehingga ketika kita mempunyai persepsi yang salah terhadap mereka maka kita perlu menyadari bahwa seringkali kita melihatnya dengan kacamaata luka batin kita. Kita tidak dapat memahami apa yang menjadi motivasi mereka. Dengan mengotrol pikiran kita maka kita dapat melihat bahwa mereka pun sama dengan kita: mereka pun sama-sama lemah.
    Kita seharusnya memandang mereka terpisah dari apa yang telah mereka perbuat dan memandang diri kita sendiri lebih dari luka yang kita derita. Ketika kita memandang diri kita sendiri sebagai pribadi maka kita mulai dapat meredakan kebencian kita. Ketika kita memandang diri kita lebih daripada luka yang kita derita maka kita dapat mengenal dengan lebih baik orang yang telah melukai.

    Imaginasi manusia merupakan pintu ke dalam dunia roh. Ada orang-orang yang mempunyai imaginasi yang sensitif terhadap dunia roh, ada yang tidak. Pada waktu mimpi, seseorang masuk ke dunia roh dan pada saat itu pikirannya tidak bekerja (tidur). Orang yang mendapat vision, melihat dalam dunia roh dalam keadaan sadar (pikiran tetap bekerja); orang yang mendapat vision ini mempunyai imaginasi yang sensitif, artinya imaginasinya hidup dan mudah menangkap hal-hal di dalam dunia roh, mudah berkomunikasi dengan alam roh.
    Mazmur fasal 139 merupakan buah renungan Daud tentang kebesaran Tuhan. KehadiranNya yang mencakup setiap titik dalam alam semesta digambarkan dalam imaginasi Daud. Dengan imaginasinya, manusia dapat bergerak ke masa lampau, kini dan yang akan datang.
  • Mat 5:27-28 :
    Menyatakan apa yang tergambar dikerjakan dalam imaginasi sudah diakui sebagai sesuatu yang sudah ada.
    Perhatikan Ibrani 13:8 yang menyatakan:
    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
  • Tuhan Yesus tidak berubah. Ia tidak terikat oleh waktu; Ia tidak dibatasi waktu. Ia dapat berada di masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang.
    Jika seseorang mengalami luka batin karena suatu peristiwa masa lampau, ia dapat menggunakan imaginasinya untuk masuk ke dalam dunia roh dan menyelesaikan masalahnya. Anda dapat meminta Tuhan Yesus menyatakan kehadiranNya dalam masalah anda tersebut. Ingat bahwa perjumpaan roh anda dengan Yesus selalu memberikan kesembuhan. Ketika peristiwa itu terjadi, anda memang tidak melihat kehadiran Yesus, tetapi anda mengerti bahwa Ia hadir (karena KehadiranNya mencakup tiap titik dalam alam semesta). Anda dapat meminta agar sekarang, ketika anda berdoa untuk inner healing, Yesus menyatakan kehadiranNya dalam imaginasi anda sehingga anda tahu apa yang sebenarnya dilakukanNya pada saat peristiwa itu terjadi.

    6.  Melepaskan rasa marah.
    Kita bisa terlepas dari kemarahan dengan cara mengakui adanya kemarahan itu dan membukanya. Kita menyadari bahwa kemarahan merupakan perasaan yang tidak menyenangkan bagi semua orang dan dapat membawa dampak yang buruk bagi oran lain. Kita perlu mengakui bahwa kita sering marah. Mengakui kepada diri sendiri, kepada orang yang sudah kita lukai karena sikap permusuhan kita dan mengakui kepada Allah. Mengakui kepada Allah adalah langkah awal untuk memperoleh kekuatan untuk memperoleh kekuatan untuk dapat melepaskan kemarahan dengan benar.

    7.   Semangat untuk mengampuni.
    Orang yang tidak mau mengampuni berarti menghalangi rahmat Allah. Pengampunan adalah syarat mutlak untuk mendapatkan penyembuhan (lih. Mrk 11:25-26). Pengampunan di sini adalah mengampuni orang yang telah melukai hatinya, mengecewakannya, membencinya dan lain-lain.
    Pengampunan pertama-tama adalah soal keputusan dan bukan perasaan.
    Melepaskan kemarahan dengan benar berarti kita membuat diri kita sendiri secara sukarela tidak lagi mempunyai hak untuk membalas dendam. Ini berarti kita mengampuni atas apa yang telah mereka perbuat. Orang yang tidak melakukan pengampunan berarti orang tersebut akan terus mengalami luka emosional.

    Definisi Pengampunan
    “pengampunan adalah penguasaan terhadap pikiran-pikiran, perasaan-perasaan dan tingkah laku yang negatif; tanpa mengabaikan yang terluka atau marah, tetapi memandang orang yang melakukan kesalahan dengan penuh penerimaan sehingga si pemberi ampun dapat disembuhkan.” (JM Brandsma)

    “pengampunan adalah penerimaan tanpa syarat. Pengampunan tidak saja menerima kesedihan hati yang anda rasakan, tetapi juga menerima orang yang sudah melakukannya dan menerima kerugian yang disebabkan oleh tindakan atau perkataan yang menyakitkan.” (David Augsburger)

    Alasan Mengampuni
    1. Karena sudah mendapatkan pengampunan dari Allah (Mat. 18:21-35).
    Kasih Allah begitu besar dalam mengampuni dosa manusia. Dosa manusia sedemikian besar sehingga Allah harus mengampuninya dengan tidak terbatas. Melalui kematian Kristus di atas kayu salib maka manusia mendapatkan pengampunan. Sebagaimana Alah telah mengampuni manusia berdosa maka manusia pun harus mengampuni sesamanya. Inilah konsep: diampuni maka mengampuni.
    2. Karena mengampuni supaya mendapatkan pengampunan Allah (Mat. 6:12, 14-15).
    Ditujukan untuk umat-Nya melalui panggilan Bapa. Bukan judicial forgiveness tetapi parental forgiveness.
    3. Bukti kasih kepada Allah dan kepada manusia.
    Pertobatan berarti memiliki hati yang menyesal karena dosa, mau meninggalkan dosa dan memiliki komitmen untuk tidak melakukan dosa dan berjalan dalam ketaatan Allah. Ini berarti pertobatan menghasilkan ketaatan. Ketika seorang mengasihi Allah maka ia mentaati perintah Allah (Yoh 14-15). Ini berarti kita harus taat ketika Allah memerintahkan kita mengampuni musuh kita; dan ini merupakan bukti kasih kita kepada Allah dan sesama (Mat. 22:27-29).
    4. Supaya dapat sehat.
    Rasa sakit hati yang terus menerus dapat mengakibatkan timbulnya kebencian yang dalam dan dapat menjadi salah satu penyebab gangguan kesehatan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengampunan memberikan kekuatan pada sistem kekebalan tubuh dan menolong menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sedangkan orang yang tidak mau mengampuni mudah terserang penyakit termasuk penyakit kanker dan jantung.

    Tahap Pemberian Pengampunan
    1. Mengerti mengapa menolak untuk mengampuni.
    • Hak memiliki dendam. Suatu yang adil apabila marah. Tetapi menerima kemarahan sebagai respon alami dari luka tidak sama dengan melihatnya sebagai hak untuk marah. Terus mengalami kemarahan sebagai suatu hak dapat membuat kita mengalami akar-akar kepahitan yang kronis.
    • Ketidaksiapan kita untuk membiarkan diri kita tidak berkuasa terhadap orang yang menyakiti kita. Pada awalnya kita merasa diri kita begitu lemah, mudah diserang dan tidak tertolong. Tetapi kemarahan membuat kita memiliki kekuatan sehingga tidak mau melepaskannya.
    • Ketidakmauan untuk melepaskan perasaan berkuasa dalam relasi dengan orang yang melukai saya
    • Menahan pengampunan sebagai suatu penghukuman
    • Memberikan pengampunan apabila diminta oleh orang tersebut, dengan menyatakan penyesalan dan kesedihan mereka dan janji untuk tidak melakukannya lagi.
    2. Memperjelas sifat mengampuni.
    • Mengampuni tidak berarti melupakan. Melupakan luka yang diderita berarti menekan luka itu. Mengampuni bukan berarti menghilangkan ingatan itu. Ingatan itu dapat saja muncul kembali tetapi yang harus terjadi adalah semakin lama luka batin semakin berkurang. Kita bisa saja mengingat luka itu tetapi kita dapat memutuskan untuk kembali mengingatnya. Walaupun diingat maka tanpa adanya luka batin.
    • Mengampuni tidak berarti memaklumi. Seandainya kita memaklumi maka tidak perlu adanya pengampunan. Memaklumi berarti merasionalisasi pikiran kita. Kita perlu melihat walaupun tindakan tidak dapat dimaklumi tetapi kita mau mengampuni orang tersebut. Pengampunan adalah satu-satunya respon dari ketidakadilan seperti ini.
    • Mengampuni tidak berarti mengabaikan. Seringkali kita berusaha mengabaikan luka batin dan mengira inilah pengampunan. Lebih mudah untuk tidak terluka dengan tidak memikirkannya lagi. Kita perlu untuk menghadapinya dengan memikirkan luka dan orang yang telah melukai. Luka ini harus diterima sebagai realita kehidupan. Dengan mengabaikan luka berarti mengubah realita dengan kekuatan dari pemusatan pikiran.
    • Mengampuni tidak berarti memulihkan kepercayaan tanpa syarat. Ini berarti pengampunan kadang-kadang memerlukan kewaspadaan terhadap orang yang melukai kita.
    3. Membatasi pengharapan atas hasil yang diperoleh dari pengampunan.
    Kita perlu untuk realitis terhadap hasil pengampunan. Mungkin tidak dapat memperbaiki hubungan yang telah ada. Mereka bisa saja tidak mau menerima pengampunan kita atau menolak untuk berubah.
    4. Melepaskan kemarahan.
    Pengampunan berarti melepaskan marah, melepaskan hak untuk membalas dendam dan melepaskan hak untuk “menikmati” konsekuensi emosional dari luka. Kita dapat melakukannya perlahan-lahan tetapi tidak berarti lambat.

    Mengalami penyembuhan luka batin memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi apabila kita ingin mengalami kelepasan dari tekanan emosi yang menyesakkan, mengalami sukacita, dan yang terutama mau taat akan firman Tuhan maka marilah kita belajar untuk mengampuni akan setiap hal yang menyakitkan hati kita.

    Penyembuhan dengan cara Tuhan sendiri
    Metode atau cara penyembuhan batin ini adalah sarana manusiawi yang didasarkan pada suatu pengalaman tertentu, namun metode bukanlah hal yang mutlak harus dilakukan dan dipaksakan, karena pada dasarnya karya penyembuhan adalah merupakan karya Roh Kudus. Oleh sebab itu, dalam doa penyembuhan batin ini peranan pendoa sebenarnya hanya sebagai katalisator dan sesungguhnya yang menjadi penyembuh adalah Tuhan Yesus sendiri.

    Berikut ini adalah faktor-faktor penting lainnya untuk penyembuhan luka batin

    Perjumpaan dengan Yesus selalu memberikan kesembuhan. Penyembuhan batin sering terjadi melalui hal-hal berikut ini:
    1. Baptisan kelahiran baru (baptisan air).
      Penerimaan Yesus terhadap dirinya sebagai anak Allah menyembuhkan jiwanya.
    2. Kelahiran baru.
      Kehadiran Yesus dalam hati seseorang memberikan kesembuhan batin tertentu.
    3. Baptisan Roh Kudus.
      Sering Roh Kudus membongkar luka-luka batin dan memberikan penyembuhan tertentu.
    4. Perjamuan Kudus.
      Jika seseorang sungguh menghargai daging dan darah Yesus, ini mempunyai arti yang khusus bagi jiwanya, menyadari bagiannya untuk menderita bersama Kristus (asosiasi). Kesadaran ini memberi- kan kesembuhan jiwa.
    5. Pengakuan dosa dan pengampunan.
      Pada saat seseorang sadar akan dosanya, ada kebebasan dalam jiwanya karena pengampunanNya (I Yoh 1:9).
    6. Pemahaman firman Allah.
      Kebenaran-kebenaran firman Allah mengobati jiwa. Banyak orang datang ke persekutuan doa dengan murung, pulang dengan sukacita karena kebenaran-kebenaran firman Allah yang dibukakan selama penyampaian firman Allah.
    7. Buah Roh Kudus.
      Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, iman, kelemahlembutan dan pengua saan diri menjadi alat yang menyembuhkan. Buah roh yang memancar dari kehidupan seseorang menyem buhkan batin. Misalnya seseorang yang sedang sedih, datang ke tempat orang percaya, sambutannya yang hangat memancarkan buah roh membuat kelegaan tertentu dalam dirinya.
    8. Mimpi, vision, puji-pujian, penyembahan dan pemujaan (praise, worship dan adoration) melepaskan o rang dari luka-luka batin.
    9. Karunia-karunia Roh Kudus.
    Contoh-contoh:
  • Mark 2:5 :
    Pernyataan kepada orang lumpuh tentang dosanya yang telah diampuni itu menyembuhkan batinnya. Pernyataan: “Hai anakKu…” memberikan kesembuhan.
  • Yoh 4:39 :
    Wanita Samaria itu juga mengalami penyembuhan batin karena masalahnya dibukakan oleh Yesus secara terang-terangan.
  • Yoh 5:14 :
    Orang yang lumpuh 38 tahun itu sembuh. Pernyataan “Jangan berbuat dosa lagi” itu juga me rupakan pernyataan yang menyembuhkan batinnya.

  • Suatu hal yang menarik dan sulit untuk dimengerti dengan pikiran kita manusia
    adalah ketika penyembuhan berlangsung, ternyata Tuhan tidak saja menjamah dan menyembuhkan si penderita tetapi juga menjamah orang yang melukai penderita sehingga kembali memulihkan hubungan diantara mereka.

    Contoh penyembuhan luka batin Petrus oleh Yesus
    Dalam Yohanes 21:9-23 dicatat tentang peristiwa penyembuhan batin Petrus. Pada saat-saat mendekati penyaliban Tuhan Yesus, Petrus menyangkal Tuhannya. Hal ini menggoreskan penyesalan di hati Petrus. Peristiwa penyangkalan Petrus ini diceritakan dalam Lukas 22:54-62.
    Ketika Yesus sudah bangkit, Ia memulai penyembuhan batin ini dengan membawa Petrus kepada kenangan tentang saat-saat penyangkalannya, yaitu dengan membawanya pada pertemuan pertama dengan murid-muridNya di tepi danau. Pagi itu, api unggun di pantai mengingatkan Petrus pada saat-saat penyangkalannya, di rumah Kayafas. Kenangan itu menyayat hatinya. Seperti umumnya manusia-manusia lain, Petrus berusaha menutup-nutupi perasaan/luka hatinya. Luka hati ini menimbulkan perasaan tak layak dalam diri Petrus.
    Pertanyaan Yesus, pernyataan Petrus dan pernyataan Yesus dalam peristiwa di tepi danau pagi itu memberi pemulihan kepercayaan Tuhan Yesus kepada Petrus. Tiga kali luka terjadi pada diri Petrus, tiga kali pula Yesus memberikan kesembuhan, sehingga kalaupun saat itu Petrus sedih, namun setelah peristiwa ini Petrus merasakan kelegaan.
    Yesus tidak berhenti sampai di situ. Ia menubuatkan hal-hal yang akan datang dalam kehidupan Petrus. Dengan cara ini Yesus membuat Petrus merasa dihargai kembali. Ia merasa mendapat hak istimewa untuk melayani Tuhan dengan setia, bahkan sampai mati. Pemulihan batin dari perasaan tidak layak ini menyebabkan Petrus sanggup melayani Tuhan dengan setia.
    Orang-orang yang jatuh dalam dosa dan bertobat, biasanya mengalami bahwa kenangan akan dosa-dosanya menimbulkan kesedihan yang mendalam. Hal ini perlu dipulihkan. Dalam peristiwa ini tampak bahwa Yesus menyembuhkan kenangan dalam ingatan Petrus. Jika Petrus suatu kelak duduk berkeliling di sekitar api unggun, ia tidak akan sedih lagi jika teringat akan peristiwa penyangkalannya terhadap Tuhan Yesus, karena ada gambar lain dalam memorinya yang merupakan gambar pemulihan dari peristiwa itu. Inilah semua yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.

    Penghapusan Memory
    Apabila sudah disembuhkan dari luka-luka batinnya maka tidak perlu untuk
    mengingatnya lagi. Lebih baik mengingat kasih Tuhan yang telah menyembuhkan dan memulihkan, sehingga itu dapat menjadi kekuatan yang luar biasa dalam kehidupan selanjutnya.
    Cara yang lebih cepat untuk menyembuhkan keadaan memori seseorang yang berisi rekaman-rekaman yang amat buruk adalah dengan jalan “menghapus”nya dengan mengusir rekaman-rekaman buruk itu dengan nama Yesus.
    Kita tahu bahwa orang dapat melihat dalam imaginasinya karena ia sebenarnya melihat roh-roh bergerak dalam imaginasi itu. Roh-roh yang berasal dari peristiwa buruk itu terekam dalam sel-sel memorinya. Roh-roh itu tetap tinggal dalam memori sampai hari kiamat kelak. Kecuali kalau roh-roh itu diusir dalam nama Yesus. Semua roh-roh dalam bentuk apapun dan pada tingkat apapun harus tunduk kepada nama Yesus.
  • Mark 6:7 : He gave them power over the unclean spirits.
  • Banyak roh-roh dunia ini yang nampaknya baik tapi menurut firman Allah adalah “unclean”.

    =================
    MENGAPA ORANG TERLUKA ?
    I. Karena Penolakan
    • Tidak dikehendaki karena hamil sebelum menikah sah
    • Tidak dikehendaki karena jenis kelamin, tidak sesuai dengan yang diharapkan
    • Proses kelahiran yang sulit.
    • Dipisahkan dari ibu saat melahirkan
    II. Anak Adopsi
    • Sebagai pancingan
    • Supaya suami betah dirumah
    • Supaya ada yang urus di hari tua
    • Yang mau digugurkan
    • Menjadi berontak, sakit-sakitan, tudung kematian
    • Anak perzinahan
    III. Kurang Kasih Sayang
    • Orang tua meninggal / bercerai
    • Orang tua pilih kasih / membeda-bedakan
    • Banyak anak
    • Orang tua yang sibuk dengan urusannya
    IV. Di Lukai (kolose 3:21, Ef 6 :4)
    kata-kata: amsal 15:4,
    • Bapa tidak bertanggung jawab,
    • Otoriter
    V. Di Manja
    Anak tunggal laki-laki /perempuan
    - Karena sakit-sakitan
    - Tidak pernah ditegur ( I Raja-raja 1:5-6)
    Di Khianati
    - Oleh orang yang dikasihi.
    Contoh Simson, Hakim-hakim 16 , (Delila). oleh teman, saudara atau mitra kerja,
    Contoh Yakub dikhianati Laban. Tuhan Yesus di khianati oleh Yudas Isakariot (spirit of Yudah)
    - Oleh atasan / anak buah.
    Contoh Uria dikhianati Daud II sam 11 ;14-16,
    Contoh Saul merasa dikhianati oleh jonathan karena membela Daud I Sam 20 :27 – 33. Absalom mengkhianati Daud
    VII. Trauma
    Trauma Kegelapan,
    Trauma api,
    Trauma Keramaian,
    Trauma Seksual ,
    Trauma Kecelakaan
    Trauma kegagalan sehingga takut lakukan apapun
    AKIBAT DARIPADA ORANG TERLUKA
    Reaksi yang agresif cendrung menolak orang lain, tidak bersedia menerima penghiburan dan pertolongan dari orang lain.
    – Keras hati dan tertutup, tidak mempercayai Firman Tuhan dan orang lain.
    – Perkataan kasar, keras kepala, suka berdebat.
    – Citra dirinya rendah, memandang dirinya tidak mampu sukses, sering sedih dan stres, suka menuduh dan menghakimi, sering mengkritik, iri hati, sombong, perfeksionis, sulit mengampuni, sulit bergaul, tidak merasa puas, suka bohong, membela diri, dan membenarkan diri.
    PERBUDAKAN TERHADAP DOSA SEKSUAL
    1. Keputusan terlibat dalam dosa seksual.
    2. Karena tidak ada kasih sayang dan pengalaman penolakan sehingga akhirnya membutuhkan penghiburan, diterima dalam hubungan seksual.
    3. Masturbasi, Pornografi, hubungan seksual dengan lawan jenis, Homo atau Lesbian.
    4. Roh seksual yang diwariskan oleh nenek moyang, karena orang tua nenek moyang kawin cerai, buka panti pijat, tempat prostitusi, Club malam.
    PEMULIHAN LUKA BATIN
    • Mazmur 33 : 5 – Dia yang membentuk hati manusia
    • Mazmur 147 : 3 – Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.
    • Yesaya 61 : 1 – Merawat orang yang remuk hati
    • Yehezkiel 36: 25 -3 – Kamu Ku berikan hati yang baru.
    1. Lahir Baru
    Dengan orang itu menerima Yesus sebagai Juruslamat.
    2. Terbuka (Maz 32 :5, Ams 28:12, Yak 5:16,)
    – Menelanjangi Iblis dengan cara :
    * Kita mengaku semua dosa dan ikatan
    sebaikya satu persatu,
    * Mematahkan kuasa iblis Memberi tempat
    bagi Firman Tuhan bekerja.
    – Memperoleh jawaban mengapa ada hal-hal yang
    – menutupi jalan hidup kita
    3. Mengampuni
    kita harus mengampuni orang –orang yang pernah melukai kita dan memberkati mereka.
    4. Mencabut semua akar pahit
    5. Darah Yesus menyucikan, membebat, hati kita
    Patahkan
    a. Roh penolakan.
    b.Tudung kematian
    c. Roh perzinahan. Karena lahir dari
    kumpul kebo / hamil diluar nikah
    d. Kegagalan, penyakit dan
    7. Mengajar tentang kasih Bapa, sehingga dia tahu sungguh bahwa Bapa disurga mengasihi hidupnya
    KEHENDAK TUHAN BAGI ORANGTUA & ANAK-ANAKNYA
    Anaknya mengasihi & menghormatinya
    ORANG TUA
    1. Ia mengasihi anaknya tanpa syarat.
    2. Ia sangat menghargai anaknya.
    3. Ia menerima anaknya.
    4. Ada keseimbangan antara kasih sayang dan displin.
    ANAK:
    1. Ia merasa dikasihi, dihargai dan diterima.
    2. Ia merasa aman karena displin orang tua konsisten dan disertai kasih sayang.
    3. Muncul dalam hatinya kasih kepada orang tuanya.
    4. Ia menghormati orang tua sesuai deng k Allah.
    Anak merasa tertolak
    Akibatnya ia menolak orangtuanya
    ORANG TUA
    Dalam hubungannya dengan
    Anaknya :
    1. Kurang memperhatikan anaknya
    2. Kurang menyatakan kasih sayang kpd anaknya
    3. Mendisiplin anaknya terlalu keras
    4. Terlalu sering mengritik anaknya
    ANAK:
    Dalam hubungannya dengan
    Orangtuanya :
    1. Ia merasa tertolak
    2. Akibatnya mengambil keputusan menolak orangtuanya
    3. Walaupun ia ingin mengasihi orangtuanya, kasih tsb tdk dirasakan
    4. Ia tidak menghormati orangtuanya
    Mengalami penolakan dari orangtuanya
    Akibatnya ia menolak orangtuanya
    Akibatnya dalam kehidupannya :
    1. Dia akan mengalami luka batin yang sangat dalam.
    2. Dia akan kehilangan berkat-berkat Tuhan karena tidak menghormati orangtua.
    3. Dia akan memberi kesempatan kepada roh penolakan untuk bekerja di dalam diriny
    8. Jaga Hati
    • Ams 4 ;23, Jagalah hati dengan waspada, bukan hanya sesaat saja, jadi harus berjaga-jaga, berhati-hati secara terus menerus. Karena dari dalam hati kita, akan terpancar keluar air kehidupan, yaitu Roh Kudus akan mengalir dari hidup dalam kita.
    • Matius 15:18-20, hati yang bersih akan mengeluarkan hal yang bersih, tetapi hati yang kotor (rusak, Pahit, sakit, akan keluar hal-hal yang pahit, rusak dan kotor juga).
    Jadi setelah kita dipulihkan harus banyak masuk dalam hadirat Tuhan dalam Doa dan Penyembahan
    9. Hati Yang dipulihkan
    Hati yang dipulihkan yaitu: dapat melihat segi positif dari setiap orang yang dikenal. Punya belas kasihan terhadap kebutuhan orang lain, suka bersakasi, suka berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, selalu rindu berhubungan intim dengan Tuhan, selalu rindu bersekutu dengan sesama, kehidupan Rohani yang terus bertumbuh dengan pesat.
    Sumber: http://my.opera.com/superHeadQuarter/blog/?startidx=110

    Luka Batin : Peranan Keluarga dalam Penyembuhan Luka Batin Anak


    A. PERMASALAHAN
    1. Krisis Keluarga
    Bulan Mei 1995 dalam konferensi tahunan dari The American Psychiatric Association (APA) di Miami 1995, ada sebuah lokakarya bertema “Family Crisis”.  Hasil dari sebuah penelitian menyebutkan bahwa dalam 30 tahun terakhir, 60 % keluarga di Amerika Serikat berakhir dengan perceraian, dan 70 % dari anak-anaknya tidak berkembang dengan baik, berperilaku menyimpang atau antisosial.  Misalnya terlibat kenakalan remaja, penyalahgunaan NAZA (narkoba, alkohol, dan zat adiktif lainnya), pergaulan bebas, perilaku seksual menyimpang dan sebagainya.  Juga dikemukakan bahwa angka perceraian semakin meningkat, pernikahan semakin menurun karena banyak orang memilih hidup bersama tanpa nikah atau hidup lajang dan pergaulan bebas (free sex).  Ketidaksetiaan (penyelewengan) di kalangan keluarga-keluarga di AS ternyata bukan monopoli para suami saja, melainkan 40 % dari para isteri di sana juga terlibat affair dengan pihak ketiga.  Dari lima perkawinan dalam lima tahun pertama terjadi tiga perceraian.
    Lynn Heitritter dan Jeanette Vought dalam bukunya mengutip pernyataan Virginia Satir mengenai kesulitan-kesulitan umum yang terjadi dalam keluarga bermasalah.  Biasanya kesulitan-kesulitan itu berkaitan dengan : harga diri, komunikasi, sistem keluarga, dan hubungan dengan masyarakat.  Jika salah satu dari keempat aspek ini tidak terpenuhi atau mengalami gangguan, maka dapat dipastikan masalah dalam keluarga akan bermunculan.
    2. Generasi dalam Ancaman Kehancuran
    Bulan Mei 1992 di Washington D.C. dalam konferensi tahunan The American Psychiatric Association(APA), ada sebuah lokakarya bertema “Generation in Jeopardy”.  Dalam lokakarya itu digambarkan betapa perilaku seksual remaja-remaja di AS sudah amat mengkhawatirkan, khususnya penyebaran penyakit kelamin AIDS.
    Bagaimana dengan kasus di Indonesia?  Juga sangat memprihatinkan.  Terjadi kemunduran yang menimpa anak remaja, artinya meningkatnya jumlah mereka yang merokok, menggunakan narkoba, melakukan pelanggaran-pelanggaran seksual dan pornografi, perkelahian dan sebagainya.  Data-data yang cukup memprihatinkan misalnya menurut survey Social Ekonomi : tahun 1995, 23% dari penduduk yang berusia 10 tahun ke atas mempunyai kebiasaan merokok.  Lebih dari 50% memulainya pada usia 15-19 tahun.  Juga tahun 1998 hasil survey Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok menyatakan bahwa 59% laki-laki dan 4,8% perempuan usia 10 tahun ke atas “sekarang perokok”, minimal sebatang sehari selama minimal 3 bulan.
    Selain masalah di atas, anak-anak remaja juga rentan akan pelanggaran seksual dan pornografi, selain menjadi korban perkosaan.  Juga tentang perkelahian pelajar kian meningkat saja kualitas maupun kwantitasnya.
    2.1  Penolakan Pada Masa Kandungan
    Janin sudah memiliki identitas sendiri dan dapat menerima masukan dari luar.  Ibu-ibu pada masa hamil menerima kehamilan itu dengan perasaan berat dan tidak menerima kehadiran bayi mereka dengan sukacita, maka bayi itu akan lahir dengan perasaan tertolak.  Ada seorang ibu muda yang tidak mengharapkan kelahiran anak keduanya karena jarak kelahiran yang terlalu dekat dengan putra sulungnya.  Selain itu, ia sedang berada di negara lain menemani suaminya yang mengambil studi lanjut.  Ia memang tidak berupaya menggugurkan kandungannya, namun ia sempat bersungut-sungut dan menolak kehamilannya.  Ketika lahir, anak itu menangis menjerit-jerit dengan keras tanpa alasan, setiap tengah malam selama beberapa bulan.  Setelah ia mendengar berita tentang dampak penolakan semasa hamil, bersama suaminya, ia datang kepada Tuhan dan memohon pengampunan serta mendoakan anak mereka.  Sejak saat itu, anaknya tidak pernah lagi menangis menjerit-jerit setiap tengah malam.
    2.2  Penolakan Pada Masa Balita
    Masa balita adalah masa yang paling rawan dan menentukan dalam pembentukan kepribadian manusia.  Yang paling penting diperhatikan pada masa anak mulai memasyarakat adalah hubungan batin yang dibina dengan ibu kandungnya.  Wanita yang paling dekat dengannya akan dianggap sebagai ibu, karena ia belum dapat membedakan hubungan keluarga secara biologis.  Itu sebabnya jika sang ibu lebih memperhatikan karir dan tidak memberi perhatian dan kasih yang cukup kepada anaknya pada masa ini, kelak saat sudah dewasa, anaknya tidak merasa bertanggung jawab untuk memperhatikan dan merawat orang tuanya yang telah lanjut usia.
    Penolakan juga dapat dirasakan apabila :
    - Sejak kecil dipisahkan dari orang tua dan dititipkan kepada kakek nenek, paman bibi atau saudara lainnya
    - Orang tua bersikap membeda-bedakan anak-anaknya
    - Sikap saudara-saudara kandung dalam keluarga yang meremehkan harga dirinya.
    2.3  Penolakan Pada Masa Remaja
    Pengaruh terbesar pada masa remaja bukan lagi orang tua mereka, tapi lingkungan teman-teman sebaya.  Seringkali apa yang dikatakan teman-teman jauh lebih penting daripada apa yang dikatakan orang tua atau guru mereka.  Demi memperoleh pengakuan dari kelompok, tidak jarang para remaja memberontak dari orang tua mereka dan melakukan tindakan yang tidak senonoh dan amoral.  Konsep dirinya sangat tergantung dari penilaian kelompoknya.
    Penolakan oleh kelompok dapat meninggalkan luka yang dalam.  Olok-olok atau hinaan sehubungan dengan penampilan jasmani yang kurang sempurna atau dalam hal prestasi, dapat pula menyebabkan rasa tertolak.
    B.  TEORI DASAR
    Seorang yang mengalami luka batin akan mengalami dampak secara psikologis, fisiologis, sosiologis maupun teologis.
    Secara psikologis, seorang yang mengalami luka batin pasti terganggu perasaannya.  Jika luka batin yang dialaminya terutama disebabkan oleh peristiwa traumatis, maka ia akan merasa malu, rendah diri dan tidak berharga.
    Gangguan secara fisiologis yang dialami seseorang karena luka batin sering kali disebut psychosomatic atau psychophysiological reaction, yaitu gangguan kejiwaan yang menggejala secara badani sebagai gangguan tubuh.  Reaksi fisik terhadap perasaan gelisah biasanya berbentuk gangguan pencernaan, sakit kepala, gatal-gatal pada kulit, sakit pingggang dan lain-lain.
    Dampak luka batin yang ketiga adalah sosiologis.  Sebagai makhluk sosial, pada dasarnya manusia mempunyai kebutuhan sosial untuk menjadi bagian integral dari lingkungannya.  Ia cenderung menyesuaikan diri dengan lingkungannya.  Namun, bagi orang yang mengalami luka batin yang parah, ia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik dalam keluarga, pekerjaan, gereja, maupun lingkungan sosial lainnya.
    Dampak luka batin berikutnya adalah secara teologis.  Hal yang pertama adalah berdampak pada pengenalan seseorang terhadap Tuhan.  Seseorang yang mempunyai pengalaman traumatis memandang Tuhan sebagai Allah yang tidak adil dan membiarkan dirinya mengalami segala peristiwa yang menyakitkan.
    C.  PEMECAHANNYA
    1.  Kembali ke Keluarga
    Kembali ke keluarga adalah solusi yang terbaik yang sangat ampuh untuk meredam aneka kebobrokan yang ada dalam masyarakat.  Karena di dalam keluarga tersimpan potensi yang sangat luar biasa dan peran orang tua sangatlah dominan dalam mengoptimalkan potensi tersebut.  Sesungguhnya orang tua adalah yang awal dan yang utama bagi anak-anak.
    Allah menjadikan kepada kita sebagai orang tua untuk membangun kehidupan anak-anak melalui komunikasi percakapan yang sangat besar manfaatnya dalam membangun sifat anak.  Sebagai orang tua kita harus memupuk kebiasaan berbicara dengan anak-anak sebagai komunikasi dua arah.  Tugas orang tua bukan hanya mengawasi melainkan melayani harapan anak-anak yang sedang berkembang untuk kemuliaan Allah.  Membangun kehidupan bukan merupakan satu bagian terpisah dari tugas menjadi orang tua, melainkan suatu yang dilakukan orang tua harus merupakan bagian dan proses membangun kehidupan anak-anak, karena tujuan pokoknya adalah menyelamatkan jiwa anak-anak tersebut.
    2.  Komunikasi sebagai Dasar Persahabatan yang Dinamis
    Komunikasi ini merupakan suatu percakapan pribadi ke pribadi sangat menolong anak menemukan jati dirinya, karena mereka langsung merasakan dialog dengan orang tua.  Jadi, keluarga tidak menghilangkan jurang pemisah anak dan orang tua.  Anak menjadi merasa aman, dapat mengembangkan jati diri yang sehat dan tidak asosial.
    3.  Komitmen
    Guna membina komunikasi yang baik antara keluarga dengan anak-anaknya membutuhkan komitmen keluarga yang teguh.  Komitmen keluarga terhadap anak-anaknya berarti adanya pengakuan keluarga terhadap anak-anaknya, “kalian adalah anak-anakku!”  Ungkapan ini memberikan kepada mereka suatu perasaan aman, berharga dan rasa dimiliki.
    4.  Mengenal Anak
    Dalam pergaulan antara sesama manusia terdapat pepatah yang menyatakan, “tidak kenal maka tak sayang.”  Pepatah  ini menyatakan bagaimana kita bisa menyayangi seseorang jika kita belum mengenalnya dengan baik.  Demikian halnya dengan hubungan kita dengan anak-anak kita.  Keluarga yang telah hidup bertahun-tahun belum tentu mengenal pribadi dan kehidupan anaknya dengan baik.  Pengenalan keluarga terhadap anak-anaknya bukan hanya mengetahui nama anaknya, tetapi juga menyangkut seluruh pribadi anaknya, baik itu hobi, kesukaan, kelebihan ataupun kekurangnnya.
    5.  Konsistensi
    Konsistensi orang tua terhadap anak-anaknya meliputi : konsistensi dalam pribadi, tingkah laku, janji, dan waktu.  Konsistensi pribadi mencakup menguasai suasana hati.  Orang tua yang konsisten pribadinya tidak akan menunjukkan kemarahan dalam satu menit dan kasih sayang dalam menit berikutnya tanpa alasan bagi suasana hati yang berubah.
    Di samping itu, orang tua juga harus konsisten dalam setiap janji-janjinya.  Orang tua seharusnya menghindarkan dirinya dari janji-janji gombal yang tidak terpenuhi terhadap anak-anaknya karena hal ini dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan, kewibawaannya sebagai orang tua atas anak-anaknya.
    6.  Keluarga dan Lingkungan
    Jadi, jelas bahwa faktor utama yang sangat mempengaruhi kepribadian anak adalah lingkungan keluarga.  Oleh sebab itu lingkungan keluarga harus dikondisikan agar kondusif terhadap proses perkembangan dan pertumbuhan anak.  Kontak jasmani, kelembutan, asuhan yang tulus perhatian yang sungguh-sungguh sangat menolong kehidupan anak-anak.
    Terhadap para orang tua modern dengan proses globalisasi tampaknya semakin menghilangkan kehangatan hubungan antara pribadi di tengah keluarga.  Ayah dan ibu semakin sibuk mengejar materi, anak-anaknya pun sibuk dengan urusannya. Hubungan suami-isteri, ayah ibu dan anak semakin lama semakin longgar dan makin lama makin menghilang.
    7.  Membangun Keluarga
    Sesungguhnya orang tua sangatlah berkesempatan untuk mempengaruhi kecerdasan (intelektual, emosional, moral, sosial dan spiritual) anak.  Sesungguhnya peran orang tualah yang sangat mungkin mengajarkan aneka kecerdasan tersebut.  Selaras dengan waktu dan masa peka anak.  Sesungguhnya orang tualah menjadi tempat belajar bagi mereka.  Bukankah seharusnya orang tualah yang paling tahu saat dan cara belajar yang paling tepat bagi anaknya.  Sehingga, lembaga keluarga merupakan pendidikan yang pertama bagi pembelajaran emosi.
    8.  Jadi Teman Baginya
    Orang tua harus menjadi sahabat anak yang paling baik. Jika orang tua memperkuat dasar persahabatan maka kepercayaan anak terhadap orang tua sangat tinggi apalagi kalau dibina secara konsisten.  Kasih berbagai rasa (bercerita mengenai isi hati), keterlibatan dan keberpihakan kepada mereka dalam segala sesuatu.  Dan hal ini akan menghilangkan segala akar pahit di dalam berkomunikasi.
    9.  Keteladanan 
    Kristus menjadi teladan kita orang tua dan kita juga sedang menjadi teladan bagi kebutuhan anak kita.  Seorang anak membangun kepribadiannya selalu berusaha mencari teladan untuk diteladani dalam membentuk kepribadiannya.  Dan sifat-sifat yang diajarkan oleh orang tua adalah teladan yang baik bagi anak.  Biasanya orang tua bagi anak adalah pahlawan.  Perilaku orang tua dijadikan ukuran bagi anak-anak untuk mencari sifat-sifat anak.
    10.  Disiplin Keluarga
    Minggoes Tahitu dan Diana melakukan 3 aturan dosa yang harus dipatuhi oleh anak-anak mereka.  Pertama, ada hal yang tidak boleh sama sekali dilakukan, misalnya menginap dirumah teman alasannya pulang terlambat.  Kedua, boleh dengan ijin, misalnya nonton, ke mall tapi dengan ijin.  Ketiga, ada hal-hal yang harus dijelaskan dari mana saja atau ke mana saja.  Hal tersebut ditanamkan sudah sejak kecil kepada mereka sehingga meskipun saat ini mereka jauh (hidup di AS) mereka tetap bisa mengontrol diri.  Mereka tidak berani melanggarnya karena sudah ditanamkan sejak kecil.  Mendisiplinkan anak kita merupakan hal yang penting sebagai latihan bagi anak-anak dalam melakukan kegiatan sehari-hari dengan tujuan dan hasil yang sangat luar biasa bagi bimbingan yang berskala luas melalui kehidupan yang teratur.
    11.  Perlengkapan Rohani
    Guna memperhatikan dan memenuhi kebutuhan rohani anak-anak,  kita terlebih dahulu harus memperlengkapi diri kita dengan bekal rohani yang cukup memadai.  Hal ini dapat tercapai apabila kita bertumbuh dalam iman dan kedewasaan sebagai seorang yang percaya kepada Yesus Kristus.  Selain itu, keluarga juga harus melibatkan Allah Roh Kudus baik di dalam kehidupannya pribadi maupun kebersamaannya dengan anak-anak, karena roh Kudus adalah Penolong yang akan menyertai kita selama-lamanya… dan akan mengajarkan segala sesuatu… dan mengingatkan…. akan semua yang telah Yesus katakan (Yoh 14:16,26).
    Keluarga bersama anggotanya dapat berdoa bersama-sama, membaca dan belajar Alkitab bersama, memuji dan menyembah Tuhan bersama-sama.
    12.  Saat Teduh
    Saat teduh keluarga sangat diperlukan dan dijadikan suatu kebiasaan yang menyenangkan.   Sesuaikan saat teduh itu sehingga dapat diikuti oleh anak-anak.  Tidak terlalu panjang dan bertele-tele, tetapi mengena pada kehidupan sekeluarga sehari-hari.  Saat teduh yang dilakukan dijadikan kebutuhan bersama.  Tanyakan keperluan anak bahwa apa yang perlu didoakan, dan apa yang akan dilakukannya.  Kalau anak dapat melakukannya maka hasilnya pasti akan dinikmati oleh anak-anak kita untuk kesejahteraan hidupnya dari hari ke hari.
    D.  KESIMPULAN
    Ketika Allah merancang pernikahan, memberikan perintah untuk memenuhi bumi, dan tetap mempertahankan pernikahan sebagai hubungan yang berlangsung seumur hidup.  Dia tidak membiarkan kita berusaha sendiri untuk membangun keluarga.  Dalam Alkitab Dia memberitahukan kita bagaimana membangun pernikahan yang harmonis.  Ada 4 fondasi yang dianjurkan Allah melalui firmnaNya (Alkitab) untuk kita pelajari dan pahami bagaimana membangun rumah tangga agar “berhasil” sesuai dengan rencana Allah.
    Adapun fondasi itu adalah : komitmen seumur hidup, membagi hidup, kesetiaan mutlak dan peran yang jelas.
    Dasar fondasi ke-1 : Komitmen Seumur Hidup (Matius 19:4-6)Ketika anda sudah bulat untuk mengambil ia sebagai suami/isteri anda maka anda sudah memutuskan untuk komitmen dengannya seumur hidup saudara.  Karena itu pikirkanlah secara cermat jangan emosi ataupun hanya terpikat karena wajah yang pampan/cantik, keuangan yang mapan, ataupun alasan lainnya.
    Dasar fondasi ke-2 : Membagi Hidup (Kejadian 2:18-25)Ingat anda berdua bukan lagi dua melainkan menjadi satu.  Jangan sekali kali punya konsep anda dua (suami dan isteri) sehingga tidak bisa bersatu akibatnya dibagi mana suami mana isteri punya! No way.  Anda berdua adalah sama satu bagian dan satu kesatuan.
    Dasar fondasi ke-3 : Kesetiaan MutlakPernikahan bukan berarti hanya komitmen untuk hidup bersama sampai mati, tetapi juga berarti dipanggil untuk SETIA secara total dalam bagiannya sebagai suami atau isteri.  Kesetiaan ini juga dimaksud dalam konteks seksual.  Paulus mengajarkan kepada Titus bahwa hidup berkeluarga harus bijaksana dan suci (Titus 2:4-5).  Penyelewengan (dalam arti yang luas baik seksual maupun lainnya) dalam keluarga sangat ditentang dalam Alkitab, baik dari sisi PL maupun PB.
    Dasar fondasi ke-4 : Peran yang JelasPeran suami dan isteri harus jelas dalam keluarga supaya tidak saling menyalahkan satu sama lain.  Alkitab menulis secara jelas peran pria dan wanita dalam keluarga sebagai berikut :
    Peran suami :Baca Efesus 5:23, 25, 28; I Kor 11:13; Kolose 3:19; I Petrus 3:7
    Dapat dirangkum bahwa peran suami adalah : mengasihi isteri, mengikuti teladan Kristus, bijaksana, tidak kasar, mengasihi isteri seperti dirinya sendiri, menjaga / melindungi / memelihara isteri.
    Suami ditunjuk sebagai kepala bukan berarti ia harus unggul dari isteri, juga bukan berarti mau seenaknya mengatur.  Sebagaimana Kristus memerintahkan jemaat sebagai mana Kristus menjadi kepala gereja begitulah perintah dan penguasaan yang dimaksud.  Kristus tidak menghukum untuk mereka yang menolaknya melainkan tetap mengasihi sampai pada saat penghukuman tiba.  Kepemimpinan suami adalah kepemimpinan fungsional, yang berarti adanya tanggungjawab suami untuk mengasih, memahami, dan menghormati kepemimpinan Allah.
    Peran isteri :Baca Efesus 5:22, 23; Kolose 3:18; I Petrus 3:1; Titus 2:4-5
    Tunduk pada suami merupakan peran yang harus dilakukan oleh para isteri.  Seberapa jauh ketundukkannya kepada suami? ini yang sering dipertanyakan oleh banyak orang.  Masihkah isteri harus tunduk jika suami tidak mengasihi?, masihkah isteri harus tunduk jika suami menyeleweng? dan masih banyak pertanyaan yang berkaitan dengan itu.  Alkitab hanya menjelaskan secara jelas isteri tunduk kepada suami.  Dan ini adalah “mutlak”.  Itu sebabnya perlu pengamatan secara jelas pada para pasangan suami dan isteri apakah ini memang calon yang diberikan oleh Tuhan? kalau ya maka ia akan langgeng sampai maut memisahkan kita berdua.  Bagaimana jika terjadi perceraian apakah itu berarti bukan kehendaknya?  sekali lagi perceraian adalah kebencian bagi Tuhan, itu sebabnya hindari kata ini dalam kamus keluarga anda.
    E.  PENUTUP
    Melihat anak-anak tumbuh menjadi sahabat-sahabat kita merupakan sebuah kesukaan sejati bagi kita sebagai orang tua.  Kesukaan ini dapat dinikmati bila kita berusaha membangun kehidupan keluarga yang harmonis.  Keluarga yang harmonis dapat terjalin dengan dinamis jika kita mendasarkan bangunan keluarga kita di atas dasar spiritualitas yang kuat disertai dengan jalianan komunikasi yang baik antara kita dengan anak-anak kita.
    Haleluyah !  Puji Tuhan !
    sumber: http://www.jimpress.net/luka-batin-peranan-keluarga-dalam-penyembuhan-luka-batin-anak/

    Thursday, 10 January 2013

    7 Mitos Berpotensi Melukai Wanita Single


    Apa yang sebenarnya Tuhan katakan tentang fashion, bermesraan dan berpacaran?
    Apakah Anda telah membeli kebohongan dunia dengan menjadikannya sebagai patokan bagaimana Anda seharusnya berpakaian, bagaimana penampilan fisik Anda bahkan sampai hubungan seks sebelum masuk dalam jenjang pernikahan? Bisa jadi Anda telah melebur dalam nilai-nilai duniawi itu walaupun Anda tidak menyadarinya. Penulis Shannon dan Steve Arterburn mengidentifikasi beberapa mitos yang umum berada di kalangan anak muda dan menelaahnya berdasarkan perspektif Firman Tuhan mengenai hal itu.
    1.  Mitos 1 – Cara saya berpakaian adalah urusan saya. Tidak seharusnya Tuhan ataupun seorang pria ikut campur mengenai hal itu.
    Sebelum Anda berkeras bahwa gaya berpakaian Anda tidak ada urusannya dengan Tuhan, cobalah ayat ini sebagai ukuran; Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. (Lukas 17:1-2).
    Ketika seorang pria teransang secara seksual saat melihat pakaian seorang wanita yang tidak sopan, kecenderungan alami mereka adalah timbulnya hawa nafsu dan pikiran mereka akan dipenuhi dengan fantasi seksual yang berkaitan dengan wanita itu. Tidak masalah apakah pria itu seorang Kristen atau bukan. Bahkan pria yang sudah berada di dalam Tuhan dapat dicobai oleh nafsu secara visual. Jika Anda ingin menghindar jadi penyebab para pria atau saudara laki-laki Anda tersandung dan jatuh, berpakaianlah secara sopan.
    2.  Mitos 2 – Semua tindakan bermesraan boleh-boleh saja.
    Anda mungkin berpikir tindakan bermesraan itu sah-sah saja, namun hal itu justru menunjukkan bahwa Anda tidak mengerti sepenuhnya dampak dari hal itu bagi seorang pria. Tindakan bermesraan yang Anda tunjukkan dapat menjadi “godaan” atau “bujukan” yang membuat pria menginginkan hal yang lebih lagi dari Anda secara seksual. Tunjukkanlah cinta yang penuh ketulusan dan rasa hormat pada pasangan Anda sehingga tidak menimbulkan kesempatan lahirnya hal-hal yang tidak diinginkan. Biarkan seorang pria mengerti bahwa Anda tertarik untuk masuk dalam pengenalan secara pribadi dengannya, namun tidak melalui tindakan bermesraan yang tidak pantas.
    3.  Mitos 3 – Saya perlu memiliki pasangan agar saya merasa sebagai seorang pribadi.
    “Mempunyai ‘someone special‘ akan menyelesaikan semua masalah saya.” Jika Anda pikir Anda membutuhkan seorang pasangan, sesungguhnya Anda tidak siap untuk memiliki pasangan. Bertentangan memang dengan adegan film yang mungkin pernah Anda saksikan dimana salah seorang karakternya menyatakan pada yang lainnya“Kamu membuat hidup saya lengkap”. Tidak ada manusia yang dapat melengkapi hidup orang lain. Hanya Tuhan yang dapat membuat Anda “lengkap”. Banyak wanita single yang mencoba dengan sekuat tenaga untuk menemukan ‘someone special‘ yang bisa membuat mereka merasa hidup ini adalah sesuatu yang pantas untuk dijalani. Padahal seharusnya tidaklah demikian. Perjuangkanlah hubungan pribadi Anda dengan Tuhan maka Anda akan mengerti sepenuhnya apa yang saya maksud dengan “hanya Tuhan yang dapat membuat Anda ‘lengkap’”.
    Jika tidak satupun dari pernyataan di atas menjelaskan tentang Anda, kami punya beberapa saran untuk Anda. Lakukanlah hal-hal yang memang berkenan bagi Anda dan jalanilah hidup Anda! Namun janganlah mengharapkan kisah cinta impian dimana Anda akan bertemu pria idaman, jatuh cinta dan hidup bahagia selamanya di negeri antah berantah. Anda perlu hidup dalam realitas dan berkaitan dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan sepenuhnya dalam hidup Anda kemudian lakukanlah yang terbaik sebagai seorang pribadi.
    4.  Mitos 4 – Kaum adam secara mendasar mengingini hal yang sama seperti kaum hawa dari suatu hubungan kencan.
    Hal ini tidak benar sama sekali. Pria dimotivasi secara keseluruhan dengan faktor-faktor yang amat berbeda dibanding kaum wanita. Hampir di semua jaman, banyak pria memberikan cinta demi mendapatkan seks, namun wanita justru memberikan seks demi mendapatkan cinta. Banyak pria yang mengerti akan hal ini dengan baik dan memanfaatkannya. Sehingga amatlah mudah bagi seorang pria untuk menipu seorang wanita yang mencari cinta dari seorang pria demi memuaskan hasratnya. Pria dibangun dengan rangsangan visual (pandangan). Tujuan utama mereka adalah keintiman secara fisik. Itulah bagaimana mereka diciptakan. Bukan berarti mereka sama sekali tidak memiliki batasan ataupun menginginkan pertalian secara emosional, banyak pria yang melakukannya. Namun itu bukanlah tujuan akhir mereka.
    5.  Mitos 5 – Saya dapat membuatnya berubah. Cinta saya akan menyelamatkan hidupnya.
    Jangan membuat kesalahan dengan mengencani seorang pria yang memerlukan perbaikan “berat” sebelum Anda mempertimbangkan untuk masuk dalam jenjang pernikahan. Banyak wanita yang terperangkap dalam keganasan seorang pria, oleh sisi pemberontakannya yang keras sampai akhirnya sang wanita bertekad untuk merubah sang pria menjadi seperti yang diinginkannya dengan modal ketulusan cinta yang dimilikinya. Kami benci mengatakan hal ini, namun Anda tidak dapat mengubah atau menyelamatkan seorangpun. Hanya Tuhan yang bisa membuat perubahan dengan sukses. Penelitian telah dilakukan. Cinta seorang wanita tidak mengubah perilaku rusak seorang pria. Hal itu hanya mengesahkan keberadaan si pria. Rasa cinta seorang wanita akan mengatakan pada seorang pria : “Kamu akan baik-baik saja dengan semua jalan yang kamu jalani!”.
    6.  Mitos 6 – Saya merasa tergoda secara seksual, saya merasa bersalah, jadi mengapa saya harus terus bertahan dalam kesusahan ini.
    Setan senang memakai rasa bersalah, meyakinkan kita untuk menyeberangi garis antara pencobaan dan dosa melalui pikiran seperti ini :
    • “Kamu harus mengakuinya kalau kamu sebenarnya sangat mengingini dia! Apalagi yang kamu tunggu, lebih baik datangi dia”
    • “Kamu telah melangkah sejauh ini, apa salahnya mengambil langkah selanjutnya yang lebih dari ini?”
    • “Dia (si cowok) sudah tahu bagaimana kamu sebenarnya, jadi tidak perlu memakai topeng untuk berpura-pura menjadi orang yang sok saleh.”
    Setan memakai pikiran seperti ini untuk menyebabkan Anda merasa bersalah, namun rasa bersalah Anda adalah rasa bersalah yang palsu karena Anda belum bertindak menurut apa yang Anda pikirkan. Anda mungkin telah dicobai untuk berbuat dosa, namun Anda belum jatuh dalam dosa.
    Ketika Yesus mengajar bahwa pikiran terhadap hal seksual adalah dosa yang bekerja atas mereka (Matius 5:27-28), Tuhan tengah menunjukkan dosa kecenderungan berfantasi seksual tentang seseorang. Ada pikiran yang muncul dalam pikiran kita karena kita adalah seorang manusia, namun kita tidak harus menghibur pikiran itu dengan fantasi seksual. Kita dapat mengalihkan dan menentang pikiran itu, seperti halnya kita dapat menahan pencobaan yang ada.
    7.  Mitos 7 – Tidak ada seorangpun yang mengerti tentang pergumulan saya.
    Kami percaya mitos ini nyata karena adanya ketakutan para wanita akan pentingnya penilaian dan pandangan orang lain terhadap diri mereka. Para wanita biasanya tidak terbuka membicarakan kehidupan seks mereka dengan orang lain. Hal ini seringkali disebabkan oleh trauma masa lalu bagaimana rahasia terdalam mereka malah menjadi gosip di antara teman-teman mereka sendiri. Bagaimana mudahnya menimbulkan gosip di antara para wanita. Jika Anda pernah mengalami pengalaman seperti itu, pelajaran yang Anda dapatkan pastilah menyimpan rahasia tergelap dari kehidupan Anda jauh dari orang lain, terutama rekan sesama wanita.
    Beberapa wanita bahkan bertumbuh bersama-sama dengan para pria sebagai teman baiknya karena mereka merasa lebih aman dibanding bersama rekan wanita lainnya yang tidak bisa dipercaya. Namun ada juga wanita yang mengalami adalah lebih berbahaya jika menceritakan rahasia mereka pada teman prianya. Semua orang memiliki peluang untuk mengkhianati kepercayaan Anda. Rekan wanita bisa membuat Anda kehilangan kepercayaan diri dengan serangan perkataan mereka dan rekan pria pun dapat mengambil keuntungan dan membuat Anda menjadi target seksual berikutnya jika Anda tidak berdiri teguh dalam keyakinan.
    Kami berharap Anda mengerti bagaimana pentingnya mengetahui isu ini bagi para wanita single. Anda tidak perlu ragu untuk menceritakan perjuangan Anda keluar dari pergumulan seksual dengan seorang wanita Kristen yang lebih matang dan dewasa. Kami percaya sepenuhnya bahwa setiap wanita Kristen pada dasarnya menghadapi godaan secara seksual dalam tingkat yang berbeda-beda.
    Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 10:13 : Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

    sumber: http://www.jimpress.net/7-mitos-berpotensi-melukai-wanita-single/